BGTK NTB – Menjadi kepala sekolah bukan sekadar tentang menerima sebuah jabatan, tetapi tentang kesiapan untuk memimpin, menggerakkan, beradaptasi, dan menghadirkan perubahan nyata di satuan pendidikan. Semangat itulah yang mengiringi Pembukaan Pelatihan Integratif Transformatif Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) Skema APBN Tahun 2026, yang diselenggarakan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTB di Hotel Lombok Raya, Selasa (18/8/2026).
Pelatihan ini akan berlangsung selama 10 hari, menjadi ruang belajar bagi para bakal calon kepala sekolah untuk memperkuat kompetensi kepemimpinan, memperluas wawasan, serta mempersiapkan diri menghadapi dinamika dan tantangan pengelolaan satuan pendidikan.
Sebanyak 87 peserta dinyatakan layak mengikuti pelatihan dari total 137 orang yang sebelumnya mengikuti rangkaian proses seleksi. Peserta berasal dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTB, terdiri atas 58 orang jenjang SD, 16 orang jenjang SMP, 9 orang jenjang SMA, dan 4 orang jenjang SMK.
Dalam laporannya, Ketua Tim Kerja Kemitraan dan Fasilitasi GTK BGTK NTB, Dr. Ari Dahfid, S.Pd., M.H., menyampaikan bahwa peserta yang mengikuti pelatihan merupakan mereka yang telah dinyatakan layak setelah melalui proses yang telah ditetapkan.
Selama 10 hari, peserta akan menjalani proses pembelajaran yang diharapkan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan dan konsep kepemimpinan, tetapi juga mendorong peserta untuk mampu menerjemahkan pembelajaran ke dalam gagasan dan aksi nyata di satuan pendidikan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BGTK Provinsi NTB Dr. Wirman Kasmayadi, S.Pd., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Yusuf, S.Pd., M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., Kasubbag Umum BGTK NTB, serta Kasubag Umum Direktorat KSPSTK Kemendikdasmen Dr. Rita Dwi Suspalupi, S.E., M.Ak. yang hadir mewakili Direktur KSPSTK Kemendikdasmen.
Dalam sambutan selamat datang, Kepala BGTK NTB Dr. Wirman Kasmayadi menekankan pentingnya menjadikan proses pelatihan sebagai ruang untuk memperkuat kesiapan peserta dalam menjalankan peran kepemimpinan di sekolah. Bagi seorang kepala sekolah, kemampuan memimpin perlu berjalan seiring dengan kemampuan belajar dan beradaptasi terhadap perubahan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Yusuf, S.Pd., M.Pd., memberikan motivasi kepada para peserta agar tidak melihat proses ini semata-mata sebagai tahapan untuk memperoleh penugasan sebagai kepala sekolah. Lebih dari itu, calon kepala sekolah perlu menyiapkan diri sebagai sosok yang mampu memberikan energi positif, membangun kolaborasi, serta menjadi penggerak bagi kemajuan sekolah.
Pesan mengenai pentingnya kesiapan menghadapi perubahan juga disampaikan Kepala Dinas Dikpora Provinsi NTB, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Karena itu, kepala sekolah dan guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi sekaligus tetap membangun kekuatan melalui kolaborasi.
Menurutnya, kemajuan sekolah tidak dapat dirancang seorang diri. Kepala sekolah perlu duduk bersama para guru dan seluruh warga sekolah untuk melihat kondisi, kebutuhan, serta merancang bersama seperti apa sekolah yang ingin diwujudkan ke depan.
“Sekolah ke depan harus dirancang bersama. Kepala sekolah perlu duduk bersama guru, berdiskusi, dan memikirkan bagaimana sekolah dapat berkembang menghadapi perubahan zaman,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam sambutannya.
Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan arahan sekaligus pembukaan kegiatan secara resmi oleh Direktur KSPSTK Kemendikdasmen yang diwakili Kasubag Umum Direktorat KSPSTK, Dr. Rita Dwi Suspalupi, S.E., M.Ak.
Dalam arahannya, Rita mengingatkan peserta bahwa proses pendidikan yang akan dijalani tidak berhenti pada pemahaman konsep. Setiap peserta nantinya perlu menyusun rancangan projek perubahan sebagai bagian dari tahapan pendidikan yang diikuti.
Projek transformatif tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam menerjemahkan pembelajaran yang diperoleh selama pelatihan ke dalam perubahan di satuan pendidikan. Dengan demikian, proses pendidikan bagi calon kepala sekolah tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya gagasan dan aksi yang dapat berkontribusi terhadap terwujudnya pendidikan yang bermutu.
Ia juga menyampaikan harapan agar seluruh peserta nantinya benar-benar siap menjalankan tugas sebagai kepala sekolah. Penugasan kepala sekolah tidak serta-merta diberikan begitu saja, tetapi dikawal melalui sebuah sistem yang terintegrasi dengan IMUT BKN, sehingga proses penugasan dapat berjalan secara lebih terarah dan sistematis.
Semangat integritas turut menjadi bagian dari pembukaan kegiatan melalui pembacaan Maklumat Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI WBK) yang dipimpin Ki Agus. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan pendidikan tidak hanya membutuhkan kompetensi, tetapi juga integritas dan keteladanan.
Nuansa kebersamaan turut mewarnai pembukaan dengan menyanyikan Indonesia Raya dan lagu “Rukun Sama Teman”, sebelum kegiatan dilanjutkan dengan doa dan rangkaian pembukaan lainnya.
Dengan dibukanya pelatihan ini, 87 bakal calon kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan di NTB memulai perjalanan belajar selama 10 hari. Sebuah proses yang diharapkan mampu memperkuat kapasitas kepemimpinan, memperluas wawasan, serta melahirkan gagasan-gagasan transformatif untuk sekolah.
Dari Lombok Raya, langkah baru para calon pemimpin sekolah itu dimulai—belajar untuk memimpin, memimpin untuk menggerakkan, dan bergerak untuk menghadirkan perubahan bagi pendidikan di NTB.
