Apakah teknologi menunggu kesiapan sekolah?

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan mengambil keputusan. Dunia pendidikan tidak berada di luar arus perubahan ini. Ruang kelas hari ini tidak lagi steril dari teknologi; peserta didik berinteraksi dengan perangkat digital, algoritma, dan sistem berbasis AI dalam keseharian mereka, baik disadari maupun tidak.

Dalam konteks inilah Program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) hadir sebagai kebijakan strategis untuk menyiapkan generasi yang mampu berpikir logis, kritis, kreatif, dan adaptif terhadap tantangan abad ke-21. KKA tidak dimaksudkan sekadar sebagai penguasaan keterampilan teknis, melainkan sebagai sarana membangun computational thinking dan kemampuan pemecahan masalah lintas disiplin (OECD, 2021).

Namun demikian, pengalaman pendampingan sekolah menunjukkan bahwa implementasi KKA tidak sesederhana menghadirkan perangkat atau aplikasi pembelajaran. Tantangan utamanya justru terletak pada bagaimana guru sebagai aktor utama pembelajaran mampu memahami, menerima, dan mengintegrasikan teknologi secara bermakna tanpa kehilangan esensi pedagogi.

Tulisan ini merefleksikan tantangan tersebut dari sudut pandang widyaiswara dan praktisi pendidikan, sekaligus menawarkan arah implementasi KKA yang kontekstual, manusiawi, dan berkelanjutan, khususnya dalam konteks sekolah di NTB.

Tantangan guru dalam implementasi program KKA

Berdasarkan pengalaman pendampingan dan refleksi praktik di lapangan, tantangan implementasi KKA dapat dipetakan ke dalam tiga aspek utama yang saling terkait sebagai berikut:

  1. Mindset Guru terhadap Koding dan Kecerdasan Artifisial

Masih banyak guru memandang koding dan kecerdasan artifisial sebagai wilayah teknis yang eksklusif bagi mata pelajaran TIK. Persepsi ini membuat KKA diposisikan sebagai “program tambahan”, bukan sebagai pendekatan berpikir yang dapat memperkaya seluruh mata pelajaran. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial berkontribusi signifikan terhadap pengembangan kemampuan berpikir komputasional, kreativitas, dan pemecahan masalah lintas disiplin (Awaluddin & Hadi, 2024).

Jika teknologi hanya dipahami sebagai alat bantu teknis, maka potensi pedagogisnya menjadi sangat terbatas. Di sinilah tantangan awal KKA sesungguhnya berada yaitu bukan pada kesiapan perangkat, melainkan pada kesiapan cara pandang guru terhadap teknologi sebagai bagian dari strategi pembelajaran bermakna.

  1. Kesenjangan kompetensi digital dan infrastruktur

Tantangan berikutnya adalah kesenjangan kompetensi digital antar guru. Perbedaan latar belakang pendidikan, usia, pengalaman, serta akses terhadap pelatihan menyebabkan kesiapan implementasi KKA tidak merata. Studi tentang perspektif guru menunjukkan bahwa meskipun sikap terhadap koding dan kecerdasan artifisial cenderung positif, keterbatasan pelatihan dan dukungan kelembagaan menjadi penghambat utama implementasi di kelas (Pratiwi et al., 2024).

Di banyak sekolah, keterbatasan sarana prasarana dan waktu refleksi pembelajaran semakin memperlebar jurang antara kebijakan dan praktik. Kondisi ini berisiko menimbulkan technology anxiety pada guru, yang pada akhirnya justru menghambat inovasi pembelajaran (UNESCO, 2019).

  1. Tantangan ekosistem sekolah

Implementasi KKA tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada guru sebagai individu. Beban administratif yang tinggi, minimnya ruang kolaborasi, serta belum kuatnya budaya belajar bersama di sekolah membuat guru kesulitan mengembangkan praktik pembelajaran berbasis koding dan kecerdasan artifisial secara kreatif. Hal ini menegaskan bahwa persoalan KKA adalah persoalan sistem pendidikan, bukan semata persoalan kesiapan personal guru.

Arah implementasi KKA yang kontekstual dan humanis

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, pendekatan implementasi KKA tidak boleh bersifat teknokratis dan satu arah. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa terdapat tiga prinsip utama yang perlu menjadi landasan implementasi KKA di sekolah.

  1. Berangkat dari konteks lokal dan masalah nyata

Pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial akan lebih bermakna jika berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Di NTB, misalnya, guru dapat mengintegrasikan KKA melalui proyek mitigasi bencana berbasis data, pengelolaan lingkungan sekolah, atau eksplorasi budaya lokal menggunakan pendekatan digital. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip meaningful learning yang menempatkan konteks sebagai sumber utama pembelajaran (Hattie & Timperley, 2007).

  1. Guru sebagai fasilitator berpikir, bukan ahli teknologi

Guru tidak dituntut menjadi “ahli AI”, tetapi menjadi fasilitator proses berpikir peserta didik. Koding dan kecerdasan artifisial diposisikan sebagai alat bantu kognitif (cognitive tools) yang memperkuat proses refleksi, diskusi, dan pemecahan masalah. Penelitian menunjukkan bahwa peran guru sebagai scaffolder tetap menjadi faktor penentu kualitas pembelajaran berbasis kecerdasan artifisial (Setiyono et al., 2025).

  1. Penguatan pelatihan dan komunitas belajar berkelanjutan

Pelatihan KKA perlu dirancang sebagai proses berkelanjutan, bukan sekadar workshop sesaat. Penguatan komunitas belajar guru menjadi kunci untuk membangun rasa aman, berbagi praktik baik, dan refleksi bersama. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan guru mengintegrasikan koding dan kecerdasan artifisial secara lintas disiplin (Imawati et al., 2025).

Dari adaptasi menuju transformasi

Jika diimplementasikan secara tepat, Program KKA tidak hanya mentransfer keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat profesionalisme guru dalam merancang pengalaman belajar yang menantang, relevan, dan bermakna. Peserta didik tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga mengembangkan growth mindset, kemampuan reflektif, dan tanggung jawab etis dalam memanfaatkan AI (Dweck, 2006; Yeager & Dweck, 2012).

Di sinilah peran strategis Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) menjadi sangat krusial. Melalui pelatihan bertahap, pendampingan berbasis praktik baik, dan penguatan komunitas belajar, BGTK dapat menjadi penghubung antara kebijakan nasional dan realitas sekolah di daerah. Dengan demikian, KKA tidak dipersepsikan sebagai beban program baru, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan kapasitas profesional guru.

Integrasi koding dan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran bukan sekadar mengikuti tren global. Ia adalah upaya memastikan pendidikan Indonesia tetap relevan, manusiawi, dan berorientasi masa depan. Kunci keberhasilannya terletak pada guru yang dimampukan, sistem yang mendukung, dan kebijakan yang berpihak pada proses belajar bermakna.

Refleksi praktisi pendidikan menunjukkan satu hal penting bahwa teknologi seharusnya memperkuat peran guru, bukan menggantikannya. Dengan pendekatan yang kontekstual, kolaboratif, dan reflektif, Program KKA berpotensi menjadi pintu masuk transformasi pembelajaran yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kuat secara pedagogi dan nilai kemanusiaan.

Referensi :

Awaluddin, A., & Hadi, M. S. (2024). Integrasi pembelajaran coding dan kecerdasan buatan di sekolah dasar: Tantangan dan peluang. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(1), 45-56.

Cakraningtyas, A. S., Alinta, I., & Susilo, B. (2025). Analisis tantangan integrasi kecerdasan buatan dalam pembelajaran sekolah dasar. Lentera Pengabdian, 4(1), 12-21.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Farchan, A. (2025). Integration of coding and artificial intelligence (AI) subjects in primary school curriculum as an effort to improve 21st century skills. Jurnal Penelitian Pendidikan, 25(1), 1-10.

Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81-112. https://doi.org/10.3102/003465430298487

Imawati, I. A. P. F., et al. (2025). Transformasi kompetensi guru melalui pengenalan konsep coding dan AI pada pembelajaran lintas disiplin. Sewagati, 9(1), 78-88.

OECD. (2021). OECD digital education outlook 2021: Pushing the frontiers with AI, blockchain and robots. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/589b283f-en

Pratiwi, M. D., Hernawan, A. H., & Fadillah, A. F. (2024). Coding and artificial intelligence (AI) learning in teachers’ perspective. Curricula: Journal of Curriculum Development, 3(2), 101–112.

Setiyono, Y. C. P., et al. (2025). Implementasi pembelajaran koding dan AI sebagai scaffolding keterampilan berpikir kritis. Didaktika, 19(1), 55–66.

UNESCO. (2019). Artificial intelligence in education: Challenges and opportunities for sustainable development. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/

Yeager, D. S., & Dweck, C. S. (2012). Mindsets that promote resilience. Educational Psychologist, 47(4), 302-314. https://doi.org/10.1080/00461520.2012.722805