Bandung, 9 Mei 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Jumat (8/5). Program ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam mendukung penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di jenjang Sekolah Dasar mulai tahun ajaran 2027/2028.
Peluncuran program dilakukan sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan daya saing peserta didik Indonesia di tingkat global. Program PKGSD-MBI dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru SD dalam mengajarkan Bahasa Inggris secara komunikatif, kontekstual, dan menyenangkan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyampaikan bahwa program ini merupakan respons atas rendahnya peringkat kecakapan Bahasa Inggris Indonesia berdasarkan hasil pemeringkatan Education First English Proficiency Index (EF EPI) 2024. Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia berada di posisi 80 dari 116 negara dan peringkat 12 dari 23 negara di Asia.
Menurutnya, pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar tidak boleh berhenti hanya sebagai mata pelajaran, melainkan harus menjadi sarana komunikasi yang digunakan secara aktif dalam proses belajar mengajar.
“Belajar Bahasa Inggris di SD jangan berhenti sebagai pelajaran. Oleh karena itu, berdialoglah dalam Bahasa Inggris saat menyampaikan pelajaran dan jangan takut untuk belajar Bahasa Inggris,” ujar Atip.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa program PKGSD-MBI merupakan upaya akseleratif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris peserta didik melalui penguatan kompetensi guru. Pelatihan dirancang dengan pendekatan baru agar mudah diikuti dan menyenangkan bagi peserta.
Sebanyak 5.777 guru dari 34 provinsi dan 177 kabupaten/kota mengikuti pelatihan tahap pertama. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 609 peserta, disusul Jawa Tengah 588 peserta, Jawa Timur 383 peserta, Riau 321 peserta, dan Sulawesi Selatan sebanyak 278 peserta.
Lebih lanjut, Nunuk menyampaikan bahwa program ini menargetkan total 90.447 guru SD hingga tahun 2029. Pada tahun 2026 ditargetkan sebanyak 10.000 guru mengikuti pelatihan, kemudian 30.000 guru pada 2027, 30.000 guru pada 2028, dan 20.447 guru pada 2029.
“Dengan skema bertahap ini, kebutuhan guru yang mengajar Bahasa Inggris di SD diharapkan dapat terpenuhi secara menyeluruh pada tahun 2029,” jelas Nunuk.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pengalaman yang dibagikan selama pelatihan. Ima, guru asal Kabupaten Biak, Papua, mengaku program ini membantunya membangun kepercayaan diri untuk mulai mengajar Bahasa Inggris meski berlatar belakang Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), bukan pendidikan Bahasa Inggris.
“Saya awalnya takut dan tidak percaya diri karena bukan guru Bahasa Inggris. Namun melalui program ini saya mendapat kesempatan belajar lagi dan ingin menunjukkan kepada murid bahwa Bahasa Inggris itu tidak sulit,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Heni Mariana, guru SD Negeri Sukahaji Kabupaten Purwakarta. Ia merasa pelatihan yang diberikan sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan pedagogik dan pemanfaatan media pembelajaran berbasis audio visual agar proses belajar menjadi lebih menarik.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Eka Ganjar Kurniawan, menilai program ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Menurutnya, kemampuan Bahasa Inggris menjadi bekal penting bagi peserta didik agar memiliki keunggulan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Sebagai bentuk pemerataan akses pembelajaran, Kemendikdasmen juga menyediakan materi pelatihan yang dapat diakses secara mandiri melalui Learning Management System (LMS) dan fitur Pembelajaran Mandiri di Rumah Pendidikan, disertai pendampingan dari fasilitator daerah pada UPT GTK Kemendikdasmen.
Program PKGSD-MBI menjadi wujud komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar serta mendukung terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua
