Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat ekosistem pembinaan bakat siswa melalui sosialisasi Program Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026. Program ini menjadi salah satu strategi nasional dalam mengembangkan potensi peserta didik secara terarah dan berkelanjutan.

Langkah tersebut sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid yang menekankan pentingnya identifikasi potensi sejak dini, pengembangan minat, serta pembinaan kemampuan peserta didik secara sistematis.

Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen, Mariman Darto, menegaskan bahwa pembinaan talenta murid kini menjadi prioritas strategis dalam menghadapi persaingan global.

ā€œPengembangan talenta murid saat ini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan strategis bangsa. Negara memerlukan sistem yang mampu mengidentifikasi, membina, dan mengakselerasi potensi anak-anak Indonesia secara terstruktur,ā€ ujarnya dalam Sosialisasi BTI 2026 di Jakarta, Kamis (5/3).

Program BTI dikelola oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dengan memberikan pelatihan intensif bagi siswa dan pembimbing bakat dalam berbagai bidang strategis, seperti STEM, pemrograman, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta penguatan karakter. Program ini juga melibatkan perguruan tinggi sebagai mitra utama dalam penguatan kompetensi peserta.

Pada tahun 2025, BTI telah menjangkau peserta dari 38 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) dengan dukungan 23 perguruan tinggi mitra, di antaranya Universitas Syiah Kuala, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Bina Nusantara, Universitas Pendidikan Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Kristen Petra, Universitas Negeri Surabaya, hingga Institut Teknologi Del.

Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene, menyampaikan bahwa keberhasilan pelaksanaan BTI 2025 tidak terlepas dari peran aktif sekolah dalam mendeteksi bakat siswa sejak dini serta komitmen para pembimbing dalam melakukan pendampingan secara berkelanjutan.

ā€œKeberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kesiapan sekolah dalam mendeteksi bakat siswa, komitmen pembimbing dalam melakukan pembinaan rutin, serta dukungan dari dinas pendidikan dan pimpinan sekolah. Untuk BTI 2026, kami menekankan peningkatan mutu pembinaan, keterbukaan proses seleksi, serta pengelolaan data talenta agar pembinaan berlangsung jangka panjang, tidak hanya berorientasi pada kompetisi,ā€ jelasnya.

Pada pelaksanaan BTI 2026, program ini akan menyasar siswa SMA/SMK/MA atau sederajat dengan model pembinaan berjenjang yang terdiri dari tingkat dasar, menengah, dan mahir untuk mengakomodasi variasi kemampuan peserta.

Kuota peserta ditargetkan mencapai 3.000 orang, yang terdiri atas 840 siswa tingkat mahir serta 2.160 peserta tingkat menengah yang melibatkan siswa dan pembimbing. Pendaftaran program dibuka mulai 6 Maret hingga 2 April 2026, sementara pelatihan utama akan dilaksanakan di perguruan tinggi mitra pada Juli–Agustus 2026.

Melalui kolaborasi yang kuat antara sekolah, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi, program BTI 2026 diharapkan mampu membangun ekosistem pengembangan talenta nasional yang inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan, sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.