BGTK NTB – Jambore Nasional (Jamnas) Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (APWI) ke-4 Tahun 2026 berlangsung pada 19 s.d 21 September 2026 di Hotel Lombok Garden, Mataram. Kegiatan ini diikuti 114 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dengan menampilkan 170 karya inovasi dan kreativitas.

Rangkaian Jamnas juga didahului Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional Widyaiswara. Dari 101 artikel dan naskah yang diterima, sebanyak 98 naskah dinyatakan lolos seleksi. Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan, gagasan, inovasi, serta praktik baik dalam pengembangan kompetensi aparatur.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum DPP APWI, Sugihardjo dan diawali penampilan Tari Tembolak Beak sebagai tarian penyambutan. Dalam sambutannya, Sugihardjo menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTB serta BGTK Provinsi NTB atas dukungan terhadap pelaksanaan Jamnas. Ia juga mengapresiasi semangat para widyaiswara dalam menghasilkan inovasi dan praktik baik.

Menurut Sugihardjo, perkembangan ASN dan tantangan global menuntut widyaiswara terus bertransformasi. Widyaiswara tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai fasilitator dalam membangun birokrasi adaptif menuju Indonesia Emas 2045.

Puncak kegiatan berlangsung pada Senin, 21 September 2026, bertepatan dengan Hari Widyaiswara Nasional ke-26 dan HUT APWI ke-6. Kegiatan dihadiri Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal, Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh, Kepala LAN Muhammad Taufiq, serta Kepala BGTK Provinsi NTB Wirman Kasmayadi.

Kepala BKN menekankan perlunya perubahan pola pikir ASN dan pemerataan pengembangan kompetensi, termasuk bagi jabatan pelaksana. Menurutnya, widyaiswara memiliki peran penting dalam mencerdaskan ASN di seluruh Indonesia. Ia juga menegaskan tiga semangat reformasi birokrasi, yaitu melindungi, memudahkan, dan membahagiakan masyarakat, dengan kebijakan yang semakin responsif.

Kepala LAN Muhammad Taufiq menyampaikan bahwa tantangan kompetensi berubah sangat cepat sehingga pengembangan kompetensi perlu bergeser dari pola pelatihan tradisional menuju pembelajaran yang lebih adaptif dan berdampak. Perubahan tersebut juga menuntut widyaiswara untuk terus bertransformasi dan meningkatkan kapasitas.

Dalam orasi ilmiahnya, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa kualitas ASN harus diukur secara lebih substantif. Keberhasilan pembelajaran aparatur tidak semata-mata dilihat dari jumlah pelatihan atau jumlah peserta, tetapi dari perubahan perilaku, peningkatan kinerja, serta manfaat yang dihasilkan bagi organisasi dan masyarakat. Melalui Jamnas APWI ke-4, peran strategis widyaiswara kembali ditegaskan sebagai penggerak pembelajaran, inovasi, dan transformasi kompetensi ASN dalam mendukung terwujudnya birokrasi yang adaptif serta pelayanan publik yang semakin berkualitas.