BGTK NTB, Jakarta – Delegasi dari Jepang menunjukkan ketertarikan besar terhadap pendekatan inovatif Indonesia dalam pendidikan numerasi melalui Taman Numerasi INTAN di SDN 04 Meruya Selatan, Jakarta Barat. Inovasi ini menjadi sorotan saat Profesor Sakai Chihiro dari Universitas Hokkaido berkunjung langsung untuk mengamati proses belajar siswa dan berbincang dengan para guru.

Taman Numerasi INTAN dirancang sebagai ruang terbuka penuh permainan edukatif, alat peraga konkret, dan tantangan matematika yang disesuaikan dengan usia siswa. Berlokasi di Kecamatan Kembangan, area ini mengubah pembelajaran menjadi pengalaman kolaboratif yang menghubungkan konsep angka dengan situasi sehari-hari, sehingga membangun kemampuan berpikir kritis, logis, serta kreatif. Inisiatif ini selaras dengan Gerakan Numerasi Nasional Kemendikdasmen, yang mengadopsi prinsip Student Based Learning (SBL) ala Jepang untuk memperkaya keterampilan Matematika, Sains, Teknologi, dan Pendidikan (STEM).

Kepala Sekolah SDN 04 Meruya Selatan, Tri Susilawati, menekankan bahwa INTAN lahir dari tekad kolektif untuk menjadikan numerasi sebagai gaya hidup menyenangkan. “Kami ingin numerasi menjadi budaya, bukan sekadar materi pelajaran. Melalui Taman Numerasi INTAN, siswa belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Harapannya, mereka tidak lagi merasa takut dengan matematika, tetapi justru tertantang untuk mengeksplorasi,” katanya. Guru Komala Sari menambahkan,“Kami menghadirkan media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan begitu, mereka memahami bahwa numerasi hadir di sekitar mereka. Anak-anak menjadi lebih percaya diri saat menyelesaikan tantangan numerik karena belajar sambil bermain,” tambahnya.

Rindy Afrizal, guru lainnya, menyebut INTAN sebagai contoh transformasi pendidikan dari tingkat sekolah. “Inovasi seperti INTAN menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari sekolah. Ketika guru kreatif dan sekolah memberikan ruang eksplorasi, siswa akan tumbuh menjadi pembelajar yang aktif dan adaptif. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang membangun pola piker,” ujarnya.

Berbeda dari metode Jepang yang lebih mengandalkan observasi alam, Taman Numerasi INTAN menawarkan struktur khusus dengan sudut belajar interaktif, papan digital, dan aktivitas proyek STEM. Pendekatan ini mendukung pembelajaran berdiferensiasi, di mana guru bertindak sebagai pemandu sesuai kemampuan individu, menjadikan numerasi keterampilan praktis sehari-hari.

Kunjungan Profesor Sakai menegaskan potensi INTAN sebagai model inspiratif bagi sekolah lain di Indonesia, terutama dalam mengatasi keterbatasan sumber daya dan rutinitas pengajaran tradisional. Inovasi ini diharapkan mempercepat pembentukan generasi unggul yang siap bersaing global.